YAYASAN DOKTOR FAUZAN

Yayasan Doktor Fauzan digagas dan didirikan oleh Dr. Drs. H. Muhammad Fauzan, SH., MM., MH, bersama keluarga (Dra. Hj. Sumiaty (istri), Ni’matul Hikmah, S.H dan Ni’matul Fauziah, S.H (Putri-putri)), dan sahabat karib teman sekolah saya H. Djono (seorang pengusaha sukses di Jepara). Aset Yayasan saat dimulainya operasional pada tahun ajaran baru 2017 mencapai Rp.3.800.000.000; (tiga milyar delapan ratus juta rupiah). Nama Yayasan diambil dari nama Dr. Drs. H. M. Fauzan, SH., MM., MH. Kata “Fauzan” berarti “Kebahagiaan, Kemenangan, Kesuksesan, Keberuntungan”, dalam pendirian yayasan ini, terselip do’a pengharapan semoga Yayasan kelak bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, khususnya alumni peserta didik menjadi manusia yang unggul, maju, berpengaruh, dan sukses dalam perjuangan kehidupan dunia dan aherat.

foto-keluarga
Foto Keluarga Besar Doktor Fauzan

Pendiri Yayasan adalah anak ndeso, yang lahir di Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Anak dari seorang ayah bernama H. Djahuri dan ibunda Hj. Rukamah kedua orang tuanya sangat fakir dan miskin, juga buta huruf tidak bisa baca tulis karena tidak pernah sekolah. Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh tani untuk menghidupi 7 (tujuh) orang anak. Fauzan, sejak usia sekolah dasar (SD/MI) sudah terbiasa bekerja keras membantu pekerjaan orang tua menggembala kambing, sapi, mengambil rumput makanan ternak, menyangkul di sawah, dan lain-lain.

Setelah tamat Madrasah Tsanawiyah Hasyim Asy’ari tahun 1982, Fauzan merantau ke kota pelajar Yogyakarta dan sekolah di Madrasah Aliyah Negeri I Yogyakarta (sebelumnya bernama Pendidikan Hakim Islam Negeri/PHIN). Selama merantau dan sekolah di Yogyakarta, Fauzan tinggal di Asrama Tentara Nasional Batalyon Infanteri Wirasada Pratista YONIF. 403 Yogyakarta Jl. Kaliurang KM.6,5 sebagai marbot Masjid Al-Iman Asrama TNI.

Kondisi ekonomi Fauzan saat sekolah dan kuliah sungguh sangat memprihatinkan, menyadari hal itu, Fauzan sambil menanam pisang di sela-sela asrama, kemudian hasilnya dijual untuk menambah biaya sekolah. Keadaan orang tua yang tidak pernah sekolah, buta huruf, fakir dan miskin, anak ndeso yang terpencil, serta kondisi ekonomi yang tidak mendukung tersebut, justru dijadikan sebagai pemecut diri, motivasi diri untuk maju mendobrak dinding penghalang menuju perubahan nasib kehidupan yang lebih terhormat. Negara-negara maju dan berpengaruh di dunia dipastikan masyarakatnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang hanya bisa diperoleh melalui proses pendidikan.

Berdasarkan fakta tersebut, Fauzan menyatakan bahwa “Generasi anak muda yang ingin mengubah nasib menjadi manusia yang bermanfaat, maju dan berpengaruh di dunia ini, maka harus belajar di sekolah yang tepat, visioner dan modern”. Anak ndeso yang abah dan ibundanya fakir, miskin, tidak pernah sekolah, dan buta huruf tersebut, saat ini Fauzan, telah meraih gelar akademik tertinggi Doktor Bidang Filsafat Hukum dengan nilai terpuji (Cumlaude) dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 2010 dan mengajar sebagai Dosen di berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan swasta ternama di Jakarta. Selain sebagai ilmuwan, Fauzan juga sebagai hakim, dan saat ini menjabat eselon II sebagai Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI.

=====

“Generasi muda yang ingin maju, berprestasi dan berpengaruh, maka harus belajar di sekolah yang tepat, visioner dan modern.” (Fauzan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *